Keterangan Gambar : Selingkar Songgon Dengan Daya Tariknya
Oleh: Yusuf S. – Elang Raung
Selasa, 20 Oktober 2026
SONGGON, BANYUWANGI – Geliat pariwisata di wilayah desa Selingkar Songgon, Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi, terus menunjukkan perkembangan. Berada di kawasan kaki Gunung Raung, wilayah ini menyimpan beragam potensi wisata yang tumbuh dan berkembang, mulai dari wisata alam, petualangan, sejarah, religi, hingga kuliner dan pasar rakyat.
Bertumbuhnya berbagai destinasi di sejumlah desa menghadirkan pilihan wisata yang semakin beragam bagi pengunjung. Tidak hanya menawarkan panorama alam yang memikat, Selingkar Songgon juga menyuguhkan pengalaman menjelajahi jejak sejarah, menikmati aktivitas petualangan, mencicipi kuliner khas Banyuwangi, hingga merasakan suasana kehidupan masyarakat desa yang menjadi bagian tak terpisahkan dari daya tarik pariwisata.
Kekayaan potensi tersebut menjadikan Selingkar Songgon sebagai kawasan yang menarik untuk dijelajahi. Setiap desa memiliki karakter dan keunggulan tersendiri, membentuk rangkaian destinasi yang saling melengkapi dalam satu kawasan wisata di kaki Gunung Raung.
Dusun Cemoro, Gerbang Wisata Alam, Sejarah, dan Religi
Perjalanan menyusuri kawasan Selingkar Songgon dapat dimulai dari gapura selamat datang dari arah Rogojampi, tepatnya di perbatasan Kecamatan Songgon dan Kecamatan Singojuruh, yang berada di antara Desa Balak, Kecamatan Songgon, dan Desa Singolatren, Kecamatan Singojuruh.
Tak jauh dari gapura tersebut, wisatawan akan menjumpai Dusun Cemoro yang menyimpan beragam potensi wisata. Salah satunya adalah Wisata Lungun, yang menawarkan pesona mata air umbul alami. Kawasan ini juga memiliki gua-gua peninggalan sejarah perjuangan kemerdekaan yang menyimpan nilai historis tersendiri.
Selain menikmati keindahan alam, wisatawan dapat berwisata religi dengan berziarah ke makam almarhum KH Abdullah Faqih, tokoh Nahdlatul Ulama (NU) yang dikenal sebagai pejuang kemerdekaan.
Perpaduan wisata alam, sejarah, dan religi tersebut menjadi gambaran awal kekayaan destinasi yang dapat dijumpai di kawasan Selingkar Songgon. Potensi ini sekaligus memperlihatkan bahwa daya tarik wisata desa tidak hanya bertumpu pada keindahan alam, tetapi juga pada nilai sejarah dan spiritual yang hidup di tengah masyarakat.
Desa Songgon, Deretan Destinasi dengan Beragam Daya Tarik
Perjalanan berlanjut menuju wilayah Desa Songgon. Di sepanjang jalur ini, wisatawan dapat menemukan sejumlah destinasi, di antaranya Sladahan, Kampoeng Durian Songgon, dan Green Gumuk Candi (GGC).
Masing-masing destinasi menawarkan karakter dan pengalaman yang berbeda. Keberadaannya memberikan keleluasaan bagi wisatawan untuk memilih tujuan sesuai minat, baik untuk menikmati suasana alam, menghabiskan waktu bersama keluarga, maupun menjelajahi beragam daya tarik wisata di kawasan Songgon.
Masih dalam rangkaian perjalanan tersebut, wisatawan dapat melanjutkan kunjungan menuju Wisata Alam Rowo Bayu, destinasi yang menawarkan suasana sejuk, lingkungan asri, serta nilai sejarah yang lekat dengan perjalanan masyarakat Banyuwangi.
Rowo Bayu memiliki keterkaitan erat dengan peristiwa Puputan Bayu pada 1771, salah satu tonggak penting dalam sejarah perjuangan masyarakat Blambangan melawan kolonialisme.
Karena itu, kunjungan ke Rowo Bayu bukan sekadar perjalanan menikmati suasana alam, tetapi juga menjadi kesempatan untuk mengenal lebih dekat sejarah perjuangan yang menjadi bagian penting dari identitas Banyuwangi.
Keberadaan destinasi ini memperlihatkan bahwa potensi wisata Selingkar Songgon dapat dikembangkan melalui perpaduan wisata alam dan edukasi sejarah. Pengalaman berwisata pun menjadi lebih bermakna karena pengunjung tidak hanya menikmati keindahan tempat, tetapi juga mengenal kisah yang menyertainya.
Desa Wisata Sumberbulu, Aktivitas Petualangan Terus Berkembang
Dari pertigaan menuju Rowo Bayu, wisatawan dapat melanjutkan perjalanan sekitar satu kilometer menuju Desa Wisata Sumberbulu. Desa ini menjadi salah satu kawasan yang memperlihatkan berkembangnya berbagai aktivitas wisata berbasis alam dan pemanfaatan potensi lingkungan.
Beragam kegiatan dapat dinikmati wisatawan, mulai dari arung jeram, tur jip, hingga berkemah di tengah suasana alam yang masih asri.
Berkembangnya aktivitas tersebut turut membuka ruang bagi tumbuhnya operator dan penyedia jasa wisata lokal. Beberapa di antaranya adalah Pinus Camp Banyuwangi, Kalisawah, dan Bospro yang ikut meramaikan aktivitas pariwisata di kawasan Sumberbulu.
Tidak hanya mengandalkan wisata petualangan, desa ini juga memiliki pemandian alami Sumberbulu yang memanfaatkan potensi sumber air setempat.
Sementara itu, kawasan hutan pinus yang rimbun menawarkan suasana sejuk dan nyaman untuk bersantai, menikmati udara segar, maupun menghabiskan waktu bersama keluarga. Potensi tersebut turut dikembangkan menjadi sejumlah destinasi, di antaranya Pinus Rebond dan Swiss.
Keberagaman daya tarik ini menunjukkan bagaimana potensi alam desa dapat berkembang menjadi berbagai bentuk pengalaman wisata. Wisatawan tidak hanya datang untuk menikmati pemandangan, tetapi juga dapat mencoba aktivitas petualangan, berkemah, atau sekadar menikmati ketenangan di tengah lingkungan alam.
Tumbuhnya berbagai kegiatan wisata tersebut juga menjadi bagian dari dinamika ekonomi desa. Semakin beragam aktivitas yang ditawarkan, semakin terbuka pula peluang bagi masyarakat untuk terlibat dalam penyediaan jasa dan layanan pendukung pariwisata.
CFD Pasar Pinusan, Wisata Kuliner yang Menghidupkan Suasana Hutan
Salah satu daya tarik yang turut memperkuat geliat wisata Desa Sumberbulu adalah CFD Pasar Pinusan, pasar rakyat yang digelar setiap Minggu pagi mulai pukul 06.00 hingga 10.00 WIB.
Berada di tengah kawasan hutan pinus, pasar ini menghadirkan suasana berwisata yang berbeda. Wisatawan dapat menikmati udara pagi di bawah rindangnya pepohonan sembari menjelajahi beragam pilihan kuliner.
Berbagai sajian tradisional hingga makanan kekinian tersedia untuk pengunjung. Kehadiran para pedagang lokal juga memberikan ruang bagi pelaku usaha kecil untuk memperkenalkan produk sekaligus memperluas jangkauan pemasaran mereka.
Perpaduan suasana alam, kuliner, dan aktivitas ekonomi masyarakat menjadikan CFD Pasar Pinusan sebagai alternatif wisata akhir pekan yang menarik.
Pasar ini bukan sekadar tempat untuk berburu makanan, melainkan juga ruang pertemuan masyarakat dan wisatawan yang menghadirkan suasana kebersamaan di tengah lingkungan alam.
Keberadaannya memperlihatkan bahwa pengembangan pariwisata desa dapat berjalan beriringan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Melalui aktivitas perdagangan dan kuliner, pasar rakyat ini memberikan ruang bagi pelaku UMKM untuk mengambil bagian dalam geliat wisata yang berkembang di Sumberbulu.
CFD Pasar Pinusan sekaligus menjadi contoh bagaimana kawasan hutan pinus dapat dimanfaatkan sebagai ruang aktivitas wisata dan ekonomi masyarakat, dengan tetap memperhatikan kebersihan serta kelestarian lingkungan.
Desa Sumberarum, Pesona Air Terjun Telunjuk Raung dan Lider
Rangkaian perjalanan wisata Selingkar Songgon semakin lengkap dengan keberadaan destinasi air terjun di Desa Sumberarum.
Dari kawasan Sumberbulu, wisatawan dapat melanjutkan perjalanan untuk menikmati keindahan Air Terjun Telunjuk Raung dan Air Terjun Lider.
Kedua destinasi tersebut menawarkan pesona alam khas kawasan kaki Gunung Raung. Aliran air yang berpadu dengan vegetasi hijau dan suasana hutan menghadirkan pengalaman wisata alam bagi pengunjung yang ingin menikmati ketenangan sekaligus menjelajahi keindahan alam Banyuwangi.
Karakter alamnya juga menjadi daya tarik bagi wisatawan yang menyukai kegiatan eksplorasi dan petualangan.
Meski demikian, pengunjung perlu memperhatikan kondisi cuaca, akses menuju lokasi, serta arahan pengelola demi menjaga keselamatan selama berwisata.
Keberadaan kedua air terjun tersebut semakin memperkaya pilihan destinasi di Kecamatan Songgon. Bentang alam yang beragam, mulai dari kawasan hutan, sumber air, hingga air terjun, menjadi modal penting bagi tumbuhnya pariwisata berbasis potensi lokal.
Destinasi air terjun ini juga memperkuat posisi Sumberarum sebagai salah satu wilayah yang memiliki daya tarik alam dalam rangkaian wisata Selingkar Songgon.
Dapoer Bu Pinisri, Persinggahan Kuliner dan Pusat Oleh-Oleh Banyuwangi
Setelah menjelajahi berbagai destinasi, wisatawan dapat melengkapi perjalanan dengan singgah di Dapoer Bu Pinisri, tempat yang menyediakan aneka jajanan khas Banyuwangi untuk buah tangan.
Tidak hanya menawarkan oleh-oleh, Dapoer Bu Pinisri juga menyajikan beragam kuliner tradisional khas Banyuwangi yang memiliki cita rasa tersendiri.
Sejumlah menu yang dapat dinikmati antara lain rujak soto, ayam kesrut, ayam Laos, pelas semanggi, dan aneka sajian khas lainnya.
Kekayaan rempah dan cita rasa masakan khas daerah menjadi daya tarik bagi wisatawan yang ingin mengenal Banyuwangi melalui pengalaman kuliner.
Kehadiran tempat kuliner seperti Dapoer Bu Pinisri turut melengkapi perjalanan wisata di kawasan Selingkar Songgon. Wisatawan dapat beristirahat, menikmati hidangan khas, sekaligus membawa pulang aneka jajanan sebagai buah tangan untuk keluarga.
Bagi wisatawan, kuliner bukan sekadar pelengkap perjalanan, melainkan juga bagian dari pengalaman mengenal karakter suatu daerah. Sajian tradisional yang tetap diminati menjadi salah satu cara memperkenalkan kekayaan kuliner Banyuwangi kepada pengunjung.
Di sisi lain, keberadaan usaha kuliner dan pusat oleh-oleh turut memperlihatkan keterkaitan antara perkembangan pariwisata dan ekonomi lokal. Destinasi wisata, usaha makanan, serta produk oleh-oleh dapat saling mendukung sehingga manfaat ekonomi pariwisata berpeluang menjangkau lebih banyak pelaku usaha di masyarakat.
Selingkar Songgon, Potensi Desa yang Terus Bertumbuh
Ragam destinasi yang hadir di sejumlah desa memperlihatkan besarnya potensi pariwisata Kecamatan Songgon. Kondisi geografis di kaki Gunung Raung memberikan kekayaan bentang alam yang menjadi fondasi tumbuhnya wisata alam dan petualangan. Sementara itu, sejarah, religi, kuliner, dan aktivitas ekonomi masyarakat menambah keragaman pengalaman yang ditawarkan kepada wisatawan.
Dari Dusun Cemoro, Desa Songgon, kawasan Rowo Bayu, Desa Wisata Sumberbulu, hingga Desa Sumberarum, setiap wilayah memiliki karakter dan daya tarik yang dapat saling melengkapi.
Kehadiran berbagai destinasi tersebut membuka peluang bagi pengembangan perjalanan wisata yang menghubungkan sejumlah desa dalam satu rangkaian kunjungan. Wisatawan dapat menikmati mata air alami, menjelajahi destinasi sejarah, mencoba aktivitas petualangan, bersantai di tengah hutan pinus, mengunjungi air terjun, hingga menikmati kuliner khas Banyuwangi.
Konsep perjalanan antardesa ini berpotensi memberikan pengalaman yang lebih beragam bagi wisatawan sekaligus memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat di sekitar destinasi.
Geliat pariwisata juga membuka peluang bagi tumbuhnya berbagai kegiatan usaha, mulai dari pengelolaan destinasi, penyediaan jasa petualangan, usaha kuliner, perdagangan produk lokal, hingga layanan pendukung lainnya.
Namun, pertumbuhan pariwisata perlu diimbangi dengan pengelolaan yang baik. Penguatan promosi terpadu, peningkatan fasilitas, kemudahan akses informasi, serta kolaborasi antarpengelola destinasi dan pemerintah desa menjadi bagian penting untuk mendukung perkembangan kawasan.
Pelestarian lingkungan, pengelolaan sampah, keselamatan wisatawan, dan perlindungan nilai sejarah juga perlu berjalan beriringan dengan meningkatnya aktivitas wisata. Dengan demikian, potensi yang dimiliki desa dapat terus dikembangkan tanpa mengabaikan keberlanjutan lingkungan dan kehidupan masyarakat setempat.
Selingkar Songgon memiliki modal penting untuk berkembang sebagai kawasan wisata yang menawarkan lebih dari satu jenis pengalaman. Kekayaan alamnya berpadu dengan jejak sejarah, aktivitas petualangan, wisata religi, pasar rakyat, dan kuliner khas yang tumbuh di tengah kehidupan desa.
Bertumbuh dari Desa, Bergeliat untuk Pariwisata Banyuwangi
Perkembangan berbagai destinasi di wilayah desa Selingkar Songgon menunjukkan bahwa potensi pariwisata tidak selalu bertumpu pada satu objek unggulan. Daya tarik suatu kawasan juga dapat tumbuh dari keberagaman destinasi yang saling terhubung dan menawarkan pengalaman berbeda.
Setiap desa memiliki ruang untuk mengambil peran, baik melalui pengembangan wisata alam, penyediaan aktivitas petualangan, pelestarian sejarah, penyelenggaraan pasar rakyat, maupun penguatan kuliner dan produk lokal.
Ketika potensi tersebut dikembangkan melalui kolaborasi, Selingkar Songgon berpeluang menjadi kawasan wisata yang memberikan pengalaman lebih utuh bagi pengunjung sekaligus membuka kesempatan ekonomi bagi masyarakat.
Ragam destinasi terus bertumbuh, geliat wisata semakin terasa. Dari mata air alami hingga air terjun, dari jejak sejarah perjuangan hingga pasar kuliner di tengah hutan pinus, Selingkar Songgon menyuguhkan wajah pariwisata desa yang beragam dan terus berkembang. Berawal dari potensi lokal, bergerak bersama masyarakat, dan menjadi bagian dari kekayaan pariwisata Banyuwangi.***