Keterangan Gambar : Situasi setiap Minggu pagi Pasar pinusan
```Oleh Yusuf.S - Elang Raung```
SONGGON, BANYUWANGI — (Senin, 12 Oktober 2026 ) Perpaduan tradisi dan modernitas mewarnai gelaran Car Free Day (CFD) Pasar Pinusan di kawasan wisata Pinus Rebond, Kecamatan Songgon, Banyuwangi. Setiap Minggu pukul 06.00–10.00 WIB, kegiatan ini menjadi ruang pemberdayaan ekonomi masyarakat, pelestarian budaya, sekaligus daya tarik wisata berbasis kearifan lokal.
Lebih dari 135 pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) turut meramaikan pasar rakyat ini. Deretan lapak berbahan bambu berdampingan dengan tenda modern, menciptakan suasana yang memadukan nuansa tradisional dengan kebutuhan masa kini.
Keunikan CFD Pasar Pinusan juga terlihat dari penampilan para pedagang yang tetap mengedepankan identitas budaya. Di tengah pengunjung dengan gaya busana modern, para pedagang tampil anggun mengenakan busana adat Osing, mulai dari udheng hingga kebaya. Sebagian lainnya mengenakan busana adat Jawa, mencerminkan keberagaman budaya masyarakat setempat.
Masyarakat di sekitar kawasan hutan yang berada dalam pangkuan LMDH Rimba Ayu, wilayah KPH Banyuwangi Barat, terdiri atas beragam latar belakang, mulai dari Osing, Jawa, Madura, hingga komunitas Bali dan lainnya. Keberagaman tersebut menjadi kekuatan sosial yang tercermin dalam interaksi para pedagang, pengunjung, dan wisatawan.
Perpaduan budaya juga hadir melalui sajian tradisional dan pertunjukan musik modern yang secara berkala disuguhkan penyelenggara. Tradisi dan kreativitas kekinian berjalan berdampingan, menjadikan pasar ini bukan sekadar tempat bertransaksi, melainkan juga ruang perjumpaan budaya dan hiburan masyarakat.
Dengan keterlibatan ratusan pelaku UMKM, CFD Pasar Pinusan memiliki potensi besar untuk mendorong ekonomi lokal sekaligus memperkuat daya tarik wisata Songgon. Namun, pengembangan tersebut perlu diimbangi dengan penataan lapak, kebersihan kawasan, pengelolaan sampah, serta pelestarian lingkungan hutan yang menjadi bagian penting dari daya tarik wisata.
Sinergi antara penyelenggara, pedagang, masyarakat, dan pemangku kepentingan menjadi kunci agar kegiatan ini terus berkembang secara inklusif dan berkelanjutan.
CFD Pasar Pinusan membuktikan bahwa kemajuan tidak harus mengikis tradisi. Di antara lapak bambu dan tenda modern, busana adat dan gaya kekinian, serta seni tradisional dan musik modern, tumbuh semangat untuk membangun ekonomi rakyat tanpa kehilangan jati diri budaya.
Merawat kearifan lokal, merangkul modernitas, dan menjaga kelestarian alam menjadi fondasi bagi kemajuan yang seimbang dan berkelanjutan.***