Phone Number

+6282317094857

TIKET GRATIS! MENGAPA PENGUNJUNG CFD PASAR PINUSAN HANYA DIMINTAI BIAYA PARKIR?

Keterangan Gambar : Wisata Murah, UMKM Bergairah, Ekonomi Masyarakat Sekitar Hutan Bertumbuh


By Admin 25 Okt 2026, 07:27:35 WIB 0 Comments

TIKET GRATIS! MENGAPA PENGUNJUNG CFD PASAR PINUSAN HANYA DIMINTAI BIAYA PARKIR?

Oleh: Yusuf S. – Elang Raung
(Pegiat Lingkungan dan Wisata Berbasis Pemberdayaan)

Edisi: Minggu ke-7 (Tujuh), Minggu, 25 Oktober 2026

SONGGON, BANYUWANGI – Menikmati sejuknya hutan pinus, berburu kuliner, dan berbelanja produk lokal kini bisa dilakukan tanpa membayar tiket masuk. Konsep ini diusung dalam kegiatan Car Free Day (CFD) Pasar Pinusan di kawasan Wisata Pinus Rebond, Desa Sumberbulu, Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi.

Digelar setiap Minggu pukul 06.00–10.00 WIB, Pasar Pinusan menghadirkan ruang rekreasi sekaligus aktivitas ekonomi masyarakat. Pengunjung dapat menikmati suasana alam dan berbelanja produk lokal tanpa dikenai tiket masuk. Pengunjung yang membawa kendaraan hanya membayar biaya parkir sesuai ketentuan yang berlaku.

Lantas, mengapa Pasar Pinusan memilih konsep tiket masuk gratis?

Membuka Akses Wisata, Menggerakkan Ekonomi

Tidak adanya tiket masuk merupakan strategi untuk memperluas akses wisata bagi masyarakat sekaligus mendorong perputaran ekonomi di kawasan tersebut.

Tanpa biaya masuk, pengunjung dapat mengalokasikan uangnya untuk membeli makanan, minuman, hasil pertanian, dan berbagai produk UMKM. Dengan demikian, aktivitas belanja berpotensi menjadi salah satu penggerak ekonomi, sementara wisata alam tetap dapat dinikmati oleh berbagai kalangan.

Semakin banyak pengunjung yang bertransaksi, semakin terbuka peluang peningkatan penjualan bagi pedagang. Karena itu, keberhasilan Pasar Pinusan tidak hanya diukur dari jumlah pengunjung, tetapi juga dari manfaat ekonomi yang dirasakan masyarakat setempat.

Menghidupkan Lebih dari 135 Pelaku UMKM

Salah satu potensi utama CFD Pasar Pinusan adalah keterlibatan lebih dari 135 pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Beragam produk ditawarkan, mulai dari makanan tradisional, aneka kuliner, hasil pertanian, sayuran khas pegunungan, hingga produk olahan masyarakat.

Bagi pedagang kecil, kegiatan mingguan ini membuka kesempatan untuk meningkatkan penjualan, memperluas pasar, dan memperkenalkan produk lokal kepada konsumen yang lebih luas. Jika dikelola secara konsisten, Pasar Pinusan berpotensi menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat di sekitar kawasan hutan.

Oleh karena itu, pengembangan pasar perlu memperhatikan kualitas produk, kebersihan, pelayanan, serta pemerataan kesempatan usaha agar manfaatnya dapat dirasakan oleh lebih banyak pelaku UMKM.

Prinsipnya sederhana: pengunjung memperoleh wisata terjangkau, pedagang mendapatkan peluang usaha, dan masyarakat sekitar berkesempatan menikmati manfaat ekonominya.

Tiket Gratis, Pengelolaan Tetap Transparan

Wisata tanpa tiket masuk tetap membutuhkan pembiayaan dan tata kelola yang jelas. Pengaturan parkir, kebersihan, keamanan, operasional kegiatan, dan pemeliharaan lingkungan harus menjadi perhatian bersama.

CFD Pasar Pinusan berlangsung di kawasan Wisata Pinus Rebond yang berkaitan dengan pengelolaan kawasan hutan bersama LMDH Rimba Ayu dan Perum Perhutani melalui KPH Banyuwangi Barat.

Karena itu, pengelolaan biaya parkir, pembiayaan operasional, serta kontribusi atau pembagian hasil antarpihak perlu mengacu pada ketentuan dan kesepakatan kerja sama yang berlaku. Kewajiban pajak daerah juga harus dipenuhi apabila memang berlaku sesuai peraturan.

Transparansi diperlukan agar setiap pihak memahami tanggung jawabnya dan manfaat kegiatan dapat dikelola secara adil. Tiket masuk gratis bukan berarti pengelolaan tanpa biaya, melainkan pilihan strategi untuk membuka akses wisata dan mengoptimalkan aktivitas ekonomi di dalam kawasan.

Wisata Berdaya, Ekonomi Masyarakat Berjaya

Pasar Pinusan menunjukkan bahwa pengembangan wisata tidak selalu harus bergantung pada penjualan tiket masuk. Aktivitas perdagangan, kuliner, dan produk lokal dapat menjadi bagian penting dalam menggerakkan ekonomi masyarakat.

Keberlanjutan konsep ini membutuhkan kolaborasi antara penyelenggara, pelaku UMKM, pengelola kawasan, pemerintah, dan pengunjung. Tata kelola yang tertib, pelayanan yang baik, transparansi, serta kepedulian terhadap kebersihan dan kelestarian hutan menjadi kunci agar kegiatan ini terus memberikan manfaat.

Pada akhirnya, keberhasilan sebuah destinasi bukan hanya ditentukan oleh besarnya pendapatan, melainkan juga oleh kesempatan usaha yang tercipta, manfaat ekonomi bagi masyarakat, dan kelestarian lingkungan yang tetap terjaga.

Pasar Pinusan membawa semangat bahwa alam dapat menjadi ruang rekreasi sekaligus sumber penghidupan, selama dikelola secara bijaksana, transparan, kolaboratif, dan berkelanjutan.

Wisata murah, UMKM tumbuh, masyarakat berdaya, dan hutan tetap terjaga.

" Pasar Pinusan: Bumi Lestari, Ekonomi Berseri, Kuat Berbudaya " ***

Social Share