Phone Number

+6282317094857

GELIAT DARI DESA UNTUK PARIWISATA BANYUWANGI

Keterangan Gambar : Bertumbuh pula Seiring Waktu Destinasi baru bertumbuh di tahun 2026 CFD Pasar Pinusan


By Admin 25 Okt 2026, 10:11:47 WIB 0 Comments

GELIAT DARI DESA UNTUK PARIWISATA BANYUWANGI

Oleh: Yusuf S. – Elang Raung
(Pegiat Lingkungan dan Wisata Petualangan)

Edisi : Minggu , 25 Oktober 2026

SONGGON, BANYUWANGI — Perkembangan pariwisata Banyuwangi tidak hanya bertumpu pada kebijakan pemerintah dan promosi destinasi unggulan. Di balik geliat industri pariwisata yang tumbuh selama lebih dari satu dekade, terdapat gerakan masyarakat desa yang berani membaca potensi alam, merintis usaha, serta mengubah sumber daya lokal menjadi peluang ekonomi. Songgon menjadi salah satu wilayah yang ikut mengambil bagian dalam perjalanan tersebut.

Sejak Abdullah Azwar Anas menjabat sebagai Bupati Banyuwangi pada 2010–2015 dan melanjutkan kepemimpinannya pada 2016–2021, sektor pariwisata Banyuwangi semakin berkembang sebagai salah satu penggerak ekonomi daerah. Promosi daerah, penataan destinasi, dan tumbuhnya berbagai atraksi wisata turut membuka ruang bagi masyarakat untuk terlibat dalam pengelolaan potensi lokal.

Namun, geliat pariwisata tidak hanya lahir dari kebijakan pemerintah. Inisiatif warga, komunitas pemuda, pelaku usaha, dan kelompok masyarakat di desa menjadi bagian penting dari proses pertumbuhannya.

Berawal dari Kepedulian terhadap Sungai Mbadheng

Jauh sebelum wisata petualangan dikenal luas di Songgon, sekelompok pemuda Desa Sumberbulu telah merintis kegiatan kepedulian lingkungan di kawasan Sungai Mbadheng, yang juga dikenal sebagai Sungai Badeng.

Pada masa awal kepemimpinan Bupati Abdullah Azwar Anas, gerakan tersebut menemukan momentum baru. Ketika perhatian terhadap kebersihan lingkungan dan potensi wisata Banyuwangi semakin menguat, para pemuda mulai melihat sungai bukan semata-mata sebagai bentang alam, melainkan juga sebagai sumber daya yang dapat dikelola melalui pendekatan jasa lingkungan.

Dari pemikiran itu, lahirlah gagasan untuk memadukan konservasi dengan wisata petualangan. Sungai yang sebelumnya lebih banyak dipandang dari sisi lingkungan dan kehidupan masyarakat mulai dijajaki sebagai ruang kegiatan river tubing dan arung jeram.

Pada 11 September 2011, komunitas tersebut mendeklarasikan X-Badeng Adventure, sebuah inisiatif yang menjadi bagian dari perjalanan awal wisata petualangan berbasis sungai di Songgon.

Gagasan dasarnya sederhana, tetapi memiliki makna penting: alam perlu dijaga, sekaligus dapat memberikan manfaat ekonomi apabila dikelola secara bertanggung jawab.

Dari gerakan komunitas inilah tumbuh salah satu benih wisata minat khusus di Songgon. Perjalanan tersebut juga menunjukkan bahwa masyarakat desa tidak harus selalu menunggu datangnya investasi besar untuk mulai mengembangkan potensi wilayahnya.

Lima Belas Tahun Perjalanan, Songgon Semakin Bergeliat

Lima belas tahun sejak deklarasi X-Badeng Adventure pada 2011, wajah pariwisata Songgon menunjukkan perkembangan yang semakin beragam. Sejumlah desa di kawasan Selingkar Songgon mulai mengembangkan daya tarik alam, wisata petualangan, rekreasi keluarga, hingga usaha ekonomi kreatif.

Rowo Bayu, yang dikenal sebagai salah satu ikon wisata Songgon dan Banyuwangi, menjadi bagian dari perjalanan pengembangan destinasi alam dan sejarah. Upaya menghidupkan kembali potensi wisata di kawasan ini turut memperkaya pilihan kunjungan wisatawan.

Di Desa Sumberarum, terdapat Air Terjun Telunjuk Raung, yang menawarkan daya tarik lanskap alam pegunungan. Sementara itu, destinasi seperti Wisata Alam Mondoleko dan Green Gumuk Candi di Desa Songgon ikut memperluas ragam pengalaman wisata berbasis alam.

Potensi kawasan hutan produksi juga mulai dimanfaatkan untuk kegiatan wisata sejak sekitar 2016. Perkembangan ini membuka peluang bagi tumbuhnya aktivitas rekreasi alam dengan tetap memperhatikan daya dukung lingkungan dan ketentuan pengelolaan kawasan.

Rangkaian perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa kekuatan pariwisata Songgon tidak terletak pada satu destinasi saja. Daya tariknya justru terbentuk dari beragam potensi yang tersebar di sejumlah desa dan dapat saling melengkapi.

Wisata Petualangan Menjadi Penggerak Baru

Salah satu perkembangan yang cukup menonjol adalah tumbuhnya operator wisata petualangan. Aktivitas arung jeram, river tubing, outbound, berkemah, hingga berbagai kegiatan rekreasi luar ruang semakin dikenal sebagai pilihan wisata di Songgon.

Bertambahnya operator membuka ruang usaha bagi masyarakat. Kebutuhan terhadap pemandu, instruktur, pengelola lokasi, transportasi, konsumsi, perlengkapan, dan layanan pendukung menciptakan mata rantai ekonomi yang melibatkan lebih banyak pihak.

Wisata petualangan juga memiliki karakter tersendiri. Pengunjung tidak hanya datang untuk melihat pemandangan, tetapi turut merasakan pengalaman beraktivitas di alam. Hal ini memberi peluang bagi destinasi untuk membangun daya tarik yang berbeda sekaligus mendorong kunjungan berulang.

Di sisi lain, pertumbuhan tersebut perlu diimbangi dengan standar keselamatan, kompetensi sumber daya manusia, pengelolaan sampah, perlindungan ekosistem sungai, dan kesiapsiagaan menghadapi perubahan cuaca maupun kondisi alam.

Dengan demikian, keberhasilan wisata petualangan tidak cukup diukur dari jumlah pengunjung, tetapi juga dari kemampuannya menjaga keselamatan manusia dan kelestarian lingkungan.

Dari Wisata Alam Menuju Ekonomi Kreatif Desa

Perkembangan pariwisata Songgon turut membuka peluang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Asosiasi pelaku wisata, komunitas usaha, dan kelompok masyarakat semakin memiliki ruang untuk membangun jejaring serta mengembangkan produk lokal.

Potensi perkebunan dan pertanian menjadi bagian penting dari perkembangan ini. Kopi Songgon, misalnya, mulai diperkenalkan melalui berbagai produk dan usaha pengolahan yang menjangkau pasar lebih luas.

Selain kopi, usaha kuliner berbahan pangan lokal, produk pertanian, dan kerajinan seperti batik turut memperkaya identitas ekonomi kreatif desa. Kehadiran produk-produk tersebut memungkinkan wisatawan membawa pulang lebih dari sekadar pengalaman berkunjung, yakni juga mengenal cita rasa, keterampilan, dan budaya masyarakat setempat.

Inilah salah satu peluang strategis yang perlu terus diperkuat: menghubungkan destinasi wisata dengan produk unggulan desa agar perputaran ekonomi tidak berhenti di lokasi wisata, tetapi turut dirasakan oleh petani, perajin, pedagang, pengolah pangan, dan pelaku usaha lainnya.

Pariwisata yang berkembang idealnya menciptakan hubungan saling menguatkan antara alam, budaya, pertanian, dan ekonomi masyarakat.

Pasar Pinusan, Wajah Baru Wisata Murah Berbasis Masyarakat

Perkembangan terbaru yang ikut menambah warna pariwisata Songgon adalah CFD Pasar Pinusan di kawasan Wisata Pinus Rebond, Desa Sumberbulu.

Mengusung konsep pasar rakyat yang dipadukan dengan rekreasi keluarga, Pasar Pinusan menghadirkan ruang bagi UMKM untuk memasarkan produk sekaligus menawarkan pengalaman berwisata yang lebih terjangkau.

Kegiatan yang berlangsung setiap Minggu pagi ini mempertemukan berbagai unsur: pelaku usaha kecil, masyarakat setempat, pengunjung, komunitas, dan pengelola kawasan. Produk kuliner, hasil pertanian, serta pangan lokal menjadi bagian dari daya tariknya.

Konsep tersebut menunjukkan bahwa wisata tidak selalu harus dibangun melalui wahana besar atau investasi mahal. Ruang alam yang dikelola dengan baik, kegiatan masyarakat yang terorganisasi, serta produk lokal yang menarik dapat menjadi modal untuk menciptakan destinasi alternatif.

Pasar Pinusan juga memiliki peluang untuk memperkuat hubungan antara konservasi dan ekonomi. Apabila dikelola secara konsisten, kegiatan ini dapat menjadi ruang edukasi lingkungan, promosi produk desa, dan rekreasi keluarga yang mendukung perputaran ekonomi masyarakat sekitar hutan.

Tantangannya adalah menjaga kualitas layanan, kebersihan, kenyamanan pengunjung, ketertiban lalu lintas, serta keberlanjutan kegiatan agar manfaatnya tidak hanya terasa pada masa awal pembukaan.

Tantangan Berikutnya: Pemerataan Manfaat

Di balik pertumbuhan destinasi dan usaha wisata, terdapat pekerjaan penting yang tidak boleh diabaikan. Berkembangnya pariwisata belum otomatis menjamin pemerataan manfaat ekonomi bagi seluruh masyarakat desa.

Karena itu, pengembangan Songgon perlu bergerak dari sekadar menambah destinasi menuju penguatan ekosistem pariwisata yang melibatkan masyarakat secara lebih luas.

Pendampingan sadar wisata perlu dilakukan secara berkelanjutan, bukan hanya melalui pelatihan sesaat. Pelaku usaha membutuhkan peningkatan kapasitas dalam pelayanan, pemasaran digital, pengelolaan keuangan, keselamatan wisata, dan pengembangan produk.

Pemerintah desa, pemerintah daerah, pengelola destinasi, Perhutani, komunitas lingkungan, asosiasi pelaku wisata, serta UMKM perlu membangun kolaborasi yang nyata. Bentuknya dapat berupa promosi bersama, paket kunjungan antardestinasi, penggunaan produk lokal, peningkatan keterampilan warga, dan mekanisme kemitraan yang transparan.

Penting pula memastikan bahwa masyarakat yang tinggal di sekitar destinasi tidak hanya menjadi penonton. Mereka harus memiliki kesempatan untuk terlibat sebagai pelaku usaha, tenaga kerja, pemasok produk, pengelola kegiatan, maupun mitra konservasi.

Dengan pendekatan tersebut, pertumbuhan kunjungan wisata dapat dihubungkan secara lebih nyata dengan peningkatan pendapatan masyarakat dan perlindungan lingkungan.

Dari Songgon untuk Masa Depan Pariwisata Banyuwangi

Perjalanan Songgon selama lima belas tahun terakhir memberikan gambaran bahwa geliat pariwisata dapat tumbuh dari inisiatif sederhana di tingkat desa. Gerakan pemuda yang berawal dari kepedulian terhadap Sungai Mbadheng berkembang menjadi bagian dari perjalanan wisata petualangan, kemudian diikuti pertumbuhan destinasi alam, operator wisata, UMKM, produk pertanian, kuliner, kerajinan, hingga pasar rakyat berbasis rekreasi keluarga.

Semua itu merupakan bagian dari dinamika pariwisata Banyuwangi yang dibangun melalui pertemuan antara kebijakan, potensi alam, kreativitas masyarakat, dan keberanian merintis usaha.

Ke depan, tantangannya bukan semata-mata bagaimana mendatangkan lebih banyak wisatawan. Yang lebih penting adalah bagaimana memastikan setiap perkembangan pariwisata memberikan manfaat yang semakin luas, menjaga alam tetap lestari, dan memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat desa.

Songgon memiliki modal berupa lanskap alam, sungai, hutan, pertanian, budaya lokal, dan masyarakat yang terus bergerak. Modal tersebut perlu dirawat melalui pengelolaan yang profesional, kolaboratif, dan berkelanjutan.

Sebab, masa depan pariwisata Banyuwangi tidak hanya ditentukan oleh destinasi yang terkenal, tetapi juga oleh desa-desa yang mampu mengelola potensinya dan memastikan manfaatnya kembali kepada masyarakat.

Dari desa, pariwisata bertumbuh. Dari masyarakat, ekonomi bergerak. Dan dari kepedulian terhadap alam, keberlanjutan pariwisata Banyuwangi menemukan pijakannya.***

Social Share