Mengukur Dampak Ekonomi UMKM dan Pengunjung Pasca pembukaan Perdana Pasar Pinusan
Oleh : Yusuf Sugiyono - Elang Raung
Banyuwangi , Selasa, 5 September 2026,
Minggu pagi di kawasan Wisata Pinus Rebond, Desa Sumberbulu, Kecamatan Songgon, Banyuwangi, kini memiliki warna baru. Di bawah rindangnya hutan pinus dan sejuknya udara kaki Gunung Raung, masyarakat berkumpul dalam sebuah ruang terbuka bernama Pasar Pinusan.
Digelar setiap Minggu pagi, Pasar Pinusan pada pembukaan perdananya langsung mendapat respons luar biasa. Bukan hanya dari masyarakat yang datang sebagai pengunjung, tetapi juga dari para pelaku UMKM yang mendapatkan ruang untuk menjajakan berbagai produk dagangan mereka.
Indikator paling sederhana terlihat dari wajah sumringah para pedagang. Sejumlah dagangan bahkan ludes sebelum waktu kegiatan berakhir. Ada pedagang yang kehabisan stok, sementara sebagian pengunjung masih mencari dagangan yang sudah tidak tersedia.
Bagi UMKM, kondisi tersebut menjadi sinyal positif. Waktu berjualan yang relatif singkat ternyata mampu menghasilkan transaksi dan keuntungan. Pasar Pinusan bukan sekadar tempat berjualan, tetapi mulai menunjukkan potensinya sebagai ruang baru untuk menggerakkan ekonomi masyarakat.
Dagangan laris, pedagang tersenyum, pengunjung pun senang.
Itulah gambaran yang terlihat pada Minggu pertama pelaksanaan Pasar Pinusan.
Ruang Baru untuk Berolahraga, Berwisata dan Berkumpul
Dari sudut pandang pengunjung, Pasar Pinusan menawarkan pengalaman yang berbeda. Minggu pagi tidak hanya diisi dengan aktivitas olahraga, tetapi sekaligus menjadi kesempatan untuk menikmati wisata alam, berburu kuliner, berkumpul bersama keluarga dan komunitas, hingga menyaksikan pagelaran seni budaya.
Suasana semakin semarak ketika keluarga dan komunitas datang bersama. Mereka menikmati waktu pagi dengan berjalan santai, bercengkerama, menikmati makanan dan minuman, serta mengikuti berbagai aktivitas yang digelar.
Pasar Pinusan akhirnya menjadi sebuah ruang pertemuan masyarakat.
Ada yang datang untuk berolahraga. Ada yang datang untuk berwisata. Ada yang berburu kuliner. Ada yang membawa keluarga. Ada pula komunitas yang menjadikan kawasan tersebut sebagai tempat berkegiatan.
Semua bertemu dalam suasana yang santai dan penuh kegembiraan.
Yang membuat pengalaman tersebut semakin kuat adalah suasana alamnya. Udara pagi yang segar, pepohonan pinus yang rindang, serta panorama kawasan kaki Gunung Raung memberikan sensasi tersendiri bagi siapa pun yang datang.
Berjalan pagi sambil menghirup udara segar di bawah rimbunnya hutan pinus kemudian berpadu dengan aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat.
Perdana, Masih Banyak Kekurangan
Sebagai kegiatan yang baru pertama kali digelar, Pasar Pinusan tentu tidak langsung sempurna.
Sejumlah kekurangan masih terlihat, mulai dari pengaturan lalu lintas, penataan dan pengelolaan parkir, hingga teknis pelaksanaan acara. Semua menjadi catatan penting yang perlu dievaluasi agar pelaksanaan pada Minggu-Minggu berikutnya dapat berjalan lebih tertib dan nyaman.
Namun, kekurangan tersebut tidak sampai mengganggu jalannya kegiatan secara keseluruhan.
Pasar Pinusan tetap dapat berjalan sesuai rencana. Antusiasme masyarakat bahkan menjadi energi tersendiri untuk menutupi berbagai kekurangan pada pelaksanaan perdana.
Justru dari kegiatan pertama inilah berbagai persoalan dapat terlihat dan menjadi bahan pembenahan.
Sebab sebuah kegiatan yang ingin tumbuh dan berkelanjutan memang membutuhkan proses, evaluasi, serta keterlibatan berbagai pihak.
Ketika Ekonomi Bertemu Alam dan Budaya
Lebih dari sekadar pasar mingguan, Pasar Pinusan memiliki peluang untuk menjadi sebuah konsep yang mempertemukan tiga kekuatan sekaligus: ekonomi, alam dan budaya.
Dari sisi ekonomi, UMKM memperoleh ruang pemasaran baru. Produk masyarakat dapat bertemu langsung dengan konsumen dalam suasana wisata yang santai.
Dari sisi pariwisata, pengunjung memperoleh destinasi aktivitas Minggu pagi yang tidak hanya menawarkan pemandangan, tetapi juga kuliner, olahraga, hiburan, komunitas dan interaksi sosial.
Sementara dari sisi budaya, pagelaran seni menjadi bagian penting untuk menjaga agar tradisi lokal tetap memiliki ruang di tengah perubahan zaman.
Perpaduan tersebut menjadi menarik karena konsep modern tidak harus menghilangkan tradisi. Sebaliknya, tradisi dapat hadir dalam kemasan kegiatan yang lebih terbuka dan relevan dengan kehidupan masyarakat masa kini.
Pasar Pinusan berpotensi menjadi jembatan antara keduanya.
Harapan Besar di Minggu-Minggu Berikutnya
Pembukaan perdana telah memberikan gambaran awal mengenai potensi Pasar Pinusan. Respons positif UMKM dan pengunjung menjadi modal penting untuk mengembangkan kegiatan tersebut.
Ke depan, harapannya Pasar Pinusan tidak hanya ramai pada saat pembukaan, tetapi mampu menjadi kegiatan rutin yang konsisten dan terus berkembang.
Dampak ekonominya diharapkan semakin luas, tidak hanya dirasakan oleh pedagang yang berjualan di lokasi, tetapi juga oleh masyarakat sekitar melalui berbagai aktivitas pendukung.
Namun pertumbuhan tersebut harus tetap diimbangi dengan kesadaran konservasi. Hutan pinus dan lingkungan alam yang menjadi daya tarik utama harus dijaga bersama. Jangan sampai peningkatan aktivitas justru mengurangi kualitas alam yang menjadi kekuatan kawasan tersebut.
Begitu pula dengan budaya. Seni dan tradisi lokal perlu terus diberi ruang agar tidak tenggelam oleh perkembangan zaman.
Pada akhirnya, Pasar Pinusan bukan semata tentang berapa banyak dagangan yang terjual atau berapa banyak pengunjung yang datang.
Lebih jauh dari itu, Pasar Pinusan adalah tentang bagaimana ekonomi masyarakat dapat bergerak, wisata dapat tumbuh, alam tetap terjaga, dan budaya tetap hidup.
Minggu pertama mungkin masih penuh kekurangan. Namun di balik itu tersimpan sebuah optimisme besar.
Di bawah rindangnya pohon pinus, di kaki Gunung Raung, masyarakat sedang mencoba membangun sebuah ruang bersama—ruang tempat ekonomi, wisata, komunitas, olahraga, seni, budaya dan alam bertemu secara harmonis.
Jika konsistensi, evaluasi dan semangat kebersamaan terus dijaga, bukan tidak mungkin Pasar Pinusan kelak menjadi salah satu ikon kegiatan masyarakat di kawasan Songgon, Banyuwangi.
Ditulis oleh:
Yusuf. S — Elang Raung
15 September 2026