Keterangan Gambar : Aktivitas pengunjung dan UMKM Dipasar Pinusan Songgon
*Ditulis oleh Yusuf Sugiyono – Elang Raung*
BANYUWANGI — Senyum sumringah terpancar dari wajah para pelaku UMKM yang setiap Minggu pagi menggelar dagangan di Pasar Pinusan. Sebanyak 85 UMKM turut meramaikan pasar yang berlokasi di kawasan Wisata Pinus Rebond, Desa Sumberbulu, Kecamatan Songgon, Banyuwangi.
Berada di bawah rimbunnya pepohonan pinus, dengan latar panorama pegunungan di kaki Gunung Raung serta aliran Sungai Mbadheng, Pasar Pinusan tidak hanya menawarkan suasana wisata alam. Kehadirannya juga membawa angin segar bagi pergerakan ekonomi masyarakat di sekitar kawasan hutan.
Pasar yang berada di bawah naungan LMDH Rimba Ayu dan wilayah Perhutani KPH Banyuwangi Barat ini menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha sekaligus memperkenalkan beragam produk lokal kepada para pengunjung.
Kegiatan Pasar Pinusan digelar secara rutin setiap Minggu pagi, mulai pukul 06.00 hingga 10.00 WIB. Seiring berjalannya waktu, pasar ini mampu menjadi magnet bagi masyarakat dari berbagai daerah.
Pengunjung yang datang bukan hanya berasal dari masyarakat sekitar. Wisatawan dari berbagai kecamatan di Banyuwangi, bahkan dari luar kota, turut memanfaatkan Minggu pagi mereka untuk menikmati suasana Pasar Pinusan.
Tidak hanya berburu berbagai kebutuhan dan produk UMKM, pengunjung juga dapat menikmati aneka kuliner khas masyarakat sekitar kawasan hutan. Beragam jajanan tradisional atau jajanan jadul berpadu dengan sajian kekinian, menciptakan pilihan kuliner yang menarik bagi berbagai kalangan.
Suasana semakin semarak ketika keluarga, sahabat, hingga komunitas datang bersama-sama. Mereka menikmati makanan, bercengkerama, sekaligus merasakan kesejukan udara di bawah tegakan pohon pinus.
Efek Domino Ekonomi Masyarakat
Aktivitas Pasar Pinusan perlahan menunjukkan adanya pergerakan ekonomi yang positif. Transaksi yang terjadi tidak hanya memberikan manfaat langsung kepada para pelaku UMKM yang berjualan, tetapi juga menciptakan efek domino bagi aktivitas ekonomi masyarakat di sekitarnya.
Ramainya pengunjung berarti meningkatnya kebutuhan terhadap berbagai layanan pendukung. Dari sektor kuliner, produk kerajinan, hasil olahan masyarakat, hingga berbagai aktivitas wisata, semuanya mendapatkan ruang untuk tumbuh.
Pasar Pinusan akhirnya bukan sekadar tempat transaksi jual beli. Lebih dari itu, pasar ini menjadi ruang pertemuan antara potensi alam, kreativitas masyarakat, pariwisata, dan ekonomi lokal.
Kesejukan hutan pinus menjadi daya tarik tersendiri. Pengunjung tidak harus memilih antara berwisata alam atau menikmati kuliner dan produk lokal. Keduanya dapat dilakukan dalam satu waktu, dalam suasana yang santai dan akrab.
Bagi masyarakat pangkuan hutan, keberadaan Pasar Pinusan juga menjadi salah satu bentuk pemanfaatan potensi kawasan secara produktif. Hutan dan wisata alam tidak hanya menjadi tempat untuk menikmati keindahan alam, tetapi juga dapat menjadi ruang tumbuh bagi ekonomi masyarakat.
Setiap Minggu pagi, ketika matahari mulai menyinari sela-sela pepohonan pinus, geliat Pasar Pinusan kembali dimulai. Lapak-lapak UMKM dipenuhi berbagai produk, aroma jajanan khas menyeruak di antara pepohonan, sementara pengunjung berdatangan menikmati suasana.
Dari tempat inilah sebuah gerakan ekonomi kecil terus tumbuh. 135 UMKM, ribuan langkah pengunjung, dan kesejukan hutan pinus berpadu menciptakan efek domino ekonomi yang memberi harapan bagi masyarakat sekitar.
Pasar Pinusan menjadi bukti bahwa potensi wisata alam dan kreativitas masyarakat dapat berjalan beriringan. Dari bawah rimbunnya pohon pinus di kaki Gunung Raung, denyut ekonomi masyarakat terus bergerak, menyambut setiap Minggu pagi dengan senyum dan harapan baru.***